Piping Stress: Brief Intro

Bekerja dibidang piping stress engineering dan dengan demikian mempunyai profesi sebagai Piping Stress Engineer  dan senang disebut dengan “Stress Boy”, mungkin bukanlah sebuah cita-cita yang melekat dibenak mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Mesin. Bukan apa-apa. Mendengar makhluk bernama Piping Engineering saja sudah membuat dahi orang berkerut, apalagi kemudian ditambah dengan kata-kata “Stress”. Salah satu sebabnya mungkin adalah karena Piping Stress Engineering bukanlah sebuah jurusan yang berdiri sendiri di Fakultas Teknik Universitas.

Juga, didalam sebuah organisasi perusahaan EPC, piping stress engineering bukanlah sebuah departemen atau apalagi divisi. Secara organisasi mereka berada dibawah Piping Engineering. Sehingga didalam struktur organisasi Engineering, mereka tidak lah muncul di permukaan, apalagi di organisasi perusahaan. Piping Stress Engineering ini, didalam organisasi Home Office, tidaklah mempunyai jabatan tertentu. Sehingga pada setiap kartu nama seorang Piping Stress Engineer, baik yang senior apalagi yang yunior, maka tidak ada jabatan atau profesi yang bisa dicantumkan selain Piping Stress Engineer. Sedangkan untuk Project Office , nasibnya agak lebih baik dengan menjadi “Lead Piipng Stress Engineer”, walaupun tetap saja agak susah menyebutkan di kartu nama.

Secara organisasi proyek, maka jabatan sebagai Lead Piping Stress Engineer adalah sebuah jabatan yang berada dibawah Job Leader atau Lead Piping Engineer. Dia tidak mempunyai garis komunikasi resmi yang langsung dengan departemen lain.  Semua jalur komunikasi resmi seperti surat-menyurrat maupun pengiriman dokumen keapda departemen lain, adalah tidak bisa langsung dilakukan, melainkan harus melalui Lead Piping Engineer. Dalam hal menghadiri rapat-rapat di proyek dalam rangka membahas perkembangan mingguan sekaligus membicarakan masalah yang terjadi dalam proyek, mamang stress engineer jarang sekali, kalau tidak mau dibilang tidak pernha, menghadirinya. Padahal, didalam menjalankan pekerjaannya, piping stress engineer sangat sering berkomunikasi dengan departemen lain, baik melalui jalur Lead Piping Engineer maupun melalui jalur tidak resmi, seperti dalam bentuk diskusi-diskusi atua perkunjungan.

Hal ini karena banyaknya kebersinggungan antara piping stress engineer dengan engineer dari departemen lain, seperti civil engineer, mechanical engineer, process engineer, instrument engineer, dalam skala dan kapasitas yang berbeda-beda. Didalam melaksanakan tugas sehari-harinya, Unit Lead dari Piping Stress Engineer, untuk selanjutnya akan kita sebut ssaja sebagai Lead Piping Stress Engineer, akan melaporkan sekaligus bertanggung jawab kepada Job Leader atau Lead Piping Engineer. Baik dalam organisasi proyek ataupun organisasi kantor pusat, piping stress engineer sebenarnya juga mempunyai dua sub-grup, atau dua tugas utama, kalau mau dikatakan demikian, yaitu:

  • Piping Stress Analysis
  • Pipe Support

Dalam sebuah proyek, biasanya jumlah piping stress engineer yang terlibat pada suatu proyek, akan tergantung dari besarnya proyek yang sedang dikerjakan. Jika proyeknya sekelas LNG Plant yang mempunyai satu train, maka piping stress engineer yang terlibat dalam proyek tersebut bisa mencapai sejumlah 6 orang atau kadang lebih. Sedangkan untuk pipe support, biasanya jumlahnya tidaklah begitu banyak, cukup hanya 2 orang saja. Bahkan kadang, pekerjaan pipe suport ini dikerjakan rangkap juga oleh piping stress engineer. Namun hal ini lebih tergantung kepada kebudayaan sebuah perusahaan EPC, maupun dinegara mana perusahaan EPC tersebut berada.

Di Indonesia, umunya pekerjaan piping stress analysis dan pekerjaan disain pipe support dilakukan secara rangkap oleh piping stress engineer. Tapi, pengalaman selama ini, jika bekerja di Singapura misalnya ataupun di Inggris, maka mereka juga mempunyai grup pipe support yang akan mengerjakan disain dari pipe support pada proyek tersebut. Demikian juga di Inggris, perusahaan EPC disini juga mempunyai grup pipe support sendiri yang terpisah dari piping stress engineer.

  1. Tujuan Analisa

Tujuan dari dilakukannya perhitungan analisa tegangan atau piping stress analysis adalah untuk memeriksa dan memastikan bahwa sebuah piping system sudah didisain se-flexible mungkin demi menghindari pergerakan pipa (movement) akibat eskpansi pipa karena temperatur tinggi atau kontraksi pipa akibat temperatur dingin,  yang bisa menyebabkan:

  • Kegagalan pada piping material karena terjadinya tegangan yang berlebihan atau overstress yang melewati batas yang diijinkan oleh Codes dan Standards.
  • Terjadinya tegangan yang berlebihan (excessive stress) pada pipe support atau titik tumpuan.
  • Kejadian terangkatnya pipa dari titik tumpuannya
  • Terjadinya kebocoran pada sambungan flanges maupun di Valves.
  • Terjadi kerusakan material di Nozzle Equipment (Pump, Tank, Pressure Vessel, Heat Exchanger etc) akibat gaya dan moment yang berlebihan akibat expansion atau contraction pipa.
  • Defleksi yang berlebihan pada sistim pemipaan.
  • Resonansi akibat terjadi Vibration, baik karena pengaruh dari luar (externally imposed vibrations) maupun akibat dari dalam (fluid induced vibrations).
  • Kegagalan karena fatigue (lelah).

Jadi dapatlah dikatakan bahwa tujuan utama dilakukannya piping stress analysis adalah untuk meyakinkan bahwa sebuah sistim pemipaan pada suatu Pabrik atau Plant sudah didisain sesuai dengan Code dan Standard yang berlaku dan dapat dioperasikan dengan selamat tanpa mengkibatkan kecelakaan yang berakibat fatal bagi kemanusiaan, lingkungan dan  tentu saja pemilik modal pabrik tersebut.

  1. Tugas dan Tanggung Jawab

Didalam sebuah Process Plant, apapun jenis process serta produk akhirnya, baik LNG Plant, Petrochemical Plant, Fertilizer Plant, Nuclear Plant, Geothermal Plant, atau pun Gas Plant, mulai dari yang berlokasi di daratan atau juga dikenal dengan sebutan On-Shore, maupun di rawa-rawa, sampai kepada Process Plant yang berlokasi di tengah laut atau juga disebut Offshore, selalu mempunyai, memiliki dan membutuhkan sistim pemipaan. Sistim pemipaan yang ada pada sebuah pabrik atau plant mempunyai fungsi untuk mengalirkan fluida dari satu tempat ke tempat lainnya. Fluida yang berada didalamnya bisa berupa gas, air, ataupun Vapour (uap) yang mempunyai temperature tertentu.

Karena umumnya material pipa terbuat dari metal, maka sesuai dengan karakteristiknya yaitu jika diberi temperatur atau dialirkan fluida yang mempunyai temperatur tertentu, maka metal atau pipa tadi akan mengalami pemuaian atau juga disebut bereskpansi, jika fluidanya panas, sebaliknya, mengalami pengkerutan atau berkontraksi, jika fluidanya dingin. Setiap kejadian pemuaian ataupun pengkerutan dari pipa tadi, biasanya pertambahan ataupun pengurangan panjang pipa dari ukuran semula, dalam skala horizontal.

Karena kita tahu bahwa pipa tersebut kebanyakan tersambung dari satu alat (equipment) ke equipment lain, maka perpanjangan ataupun pengurangan tadi, secara otomatis akan membawa pengaruh terhadap titik dimana pipa tersebut tersambung. Atau, jika pipa tersebut, karena pertimbangan praktis dan safety perlu diberikan Anchor point, maka perpanjangan atau perpendekan dari material pipa tersebut akan mempengaruhi anchor point tadi.

Mari kita ambil satu contoh, yaitu jika pipa tersebut digunakan untuk penyambungan dari sebuah nozzle pompa ke nozzle Tanki, maka akibat dari pengaruh temperatur fluida didalam pipa, maka pipa akan memuai atau mengkerut yang pada gilirannya akan menarik atau menekan ke arah nozzle pompa dan nozzle tanki tersebut.

Akibat pergerakan pipa tadi, maka akan ada gaya yang menekan atau menarik nozzle pompa dan nozzle tanki tersebut, disamping juga akan menimbulkan gaya balik terhadap pipa tadi. Pergerakan pipa tersebut atau juga sering disebut sifat dan perilaku (behaviour) pipa, akibat adanya pengaruh temperature fluida, perlu dihitung sedemikan sehingga pergerakkan tersebut masih mampu ditahan dan diterima oleh sang pipa tanpa harus mengalami perpatahan ataupun pecah sesuai dengan kekuatan material pipa tersebut.

Disamping itu, perlu juga diketahui apakah gaya yang diberikan akibat perpanjangan ataupun pegkerutan pipa tidak sampai merusak nozzle pompa dan nozzle tanki, jika pipa tersebut tersambung ke pompa atau tank atau ke equipment lainnya. Atau, apakah gaya yang terjadi akibat pemuaian atau pengkerutan sistim pemipaan tadi tidak menimbulkan efek yang berlebihan kepada seluruh sistim support dari sistim pemipaan tersebut?

Perhitungan-perhitungan tentang gaya dan perilaku pipa serta segala macam pengaruhnya terhadap keadaan disekelilingnya, baik akibat gaya dalam atau juga tekanan dalam, maupun akibat tekanan luar, maka semua perhitungan tersebut lah yang dinamakan dengan Piping Stress Analysis atau  dalam terjemahan bebas ke bahasa Indonesia adalah perhitungn Analisa Tegangan. Perhitungan Analisa Tegangan pada sistim pemipaan itulah yang merupakan tugas utama dari grup Piping Stress Engineering ini. Dengan kata lain, secara definisi, tugas seorang Piping Stress Engineer adalah melakukan perhitungan Stress Analysis dari sistim pemipaan sedemikian sehingga sistim pipa tersebut akan dapat beroperasi dengan aman tanpa mengalami kegagalan atau juga kecelakaan yang berakibat fatal bagi Plant itu sendiri maupun bagi kemanusiaan, selama masa usia dari pabrik tersebut. Disamping mengamati dan menganalisa perilaku pipa ketika diberi gaya dalam maupun gaya luar, maka seorang Piping Stress Engineer juga melakukan disain dan perencanaan sistim pipe support pada seluruh sistim pemipaan pada pabrik yang sedan direncanakan tersebut, disamping melakukan disain dan perencanaan lainnya.

Sehingga, dapat disimpulkan disini bahwa fungsi dan tugas dari grup Piping Stress Engineering adalah:

  • Melakukan perhitungan analisa tegangan pada sistim pemipaan (piping stress analysis pada piping system) yang ada pada suatu pabrik atau plant. Analisa yang dilakukan bisa bersifat statis dan bisa juga ebrsifat dinamis. Hal ini akan dibicarakan lebih jauh pada bagian selanjutnya.
  • Melakukan disain dan perencanaan atas sistim penyanga (pipe support) pada jaringan pipa yang ada pada suatu pabrik baik yang bertipe standard maupun bertipe spesial.
  • Melakukan disain dan perencanaan pada komponen-komponen spesial yang memerlukan perhatian khusus, seperti spring hanger, expansion joint, branch reinforcement, dan lain sebagainya.
  • Melakukan perhitungan khusus atau special calculation pada sistim pemipaan seperti pada sistim relief valve, atau system yang mempunyai aliran dua phasa, juga sistim dimana akan ada kemungkinan terjadinya water hammer, dan lain sebagainya.
  • Melakukan pengecekan atas gaya dan beban yang terjadi pada nozzle equipment akibat dari ekspansi atau kontraksi pipa.
  • Melakukan pengecekan terhadap besarnya gaya dan momen yang terjadi pada sambungan flange dan valve, demi menghindari terjadinya kebocoran pada saat operasi, yang bisa berakibat fatal.
  • Selain melakukan perhitungan Stress Analysis untuk sistim yang dianggap kritis, grup ini juga melakukan pemeriksaan terhadap sistim pemipaan yang termasuk didalam kategori non-critical atau tidak kritis.
  1. Hubungan antar Departemen

Sebagaimana umumnya dalam sebuah organisasi perusahaan yang membutuhkan saling interaksi dengan departemen atau divisi lainnya, maka grup Piping Stress Engineering ini termasuk grup yang cukup banyak bersinggungan dengan Departemen lainnya di Divisi Engineering, selain tentu saja dengan grup Piping Design. Khusus dengan grup Piping Design, yang bisa dikatakan adalah saudara tua, banyak hal-hal yang menarik terjadi selama proses interaksi tersebut. Orang-orang yang bekerja sebagai piping designer rata-rata adalah para designer yang sudah senior dan sudah sangat berpengalaman didalam mengerjakan berbagai disain sistim pemipaan untuk berbagai macam proyek.

Sementara itu, hampir seluruh anggota dari piping stress engineering adalah para engineer muda yang baru saja lulus dari kulliah atau beberapa orang yang sudah berpengalaman 3 tahun. Karena sudah merupakan tugas dari piping stress engineer untuk melakukan analisa atas sebuah sistim pemipaan yang di disain oleh piping design, maka ketika piping stress engineer merasa bahwa disain yang dilakukan tidaklah memenuhi persyaratan yang dicantumkan dalam Code dan Standard, maka otomatis dia akan meminta piping design untuk merubahnya. Sebagai seorang yang rata-rata sudah senior dibidang piping design, tentu saja permintaan “Stress boy” tidaklah bisa langsung diterima begitu saja. Akibatnya terjadilah diskusi yang panjang antara kedua kubu tersebut. Justru disinilah letak seni dalam bekerja di Piping Stress Engineering ini.

Di satu sisi ada pihak yang ingin merubah, sedangkan disisi lain, ada pihak yang tentu saja tidak mau disain yang sudah dilakukan harus dirubah begitu saja. Kalau sudah begini, dan jika tidak tercapai kesepakatan, maka yang akan turun tangan adalah Lead Engineer masing-masing. Tetapi pada prinsipnya, jika hal itu adalah demi keselamatan dan sesuai dengan aturan yang berlaku, tentu saja akan tercapai kesepakatan. Departemen Civil Engineering dan Mechanical Engineering serta Process Engieering adalah grup lainnya yang juga sangat sering bersinggungan dan berhubungan dengan grup Piping Stress Engineering ini. Dan seperti biasanya, akan selalu ada diskusi yang ramai dengan departemen lain tersebut.

Kalau berbicara dalam hal hubungan dengan Departemen lain, maka hubungan yang paling ramai diantara ketiga departemen yang disebutkan diatas adalah dengan Departemen Civil Engineering. Hal ini terjadi terutama pada saat pengiriman dokumen yang cukup krusial dan sangat diperlukan oleh Civil Departemen, yaitu dokumen yang berisi informasi beban yang terjadi pada struktur atau pondasi yang dilalui oleh jaringan pipa.

Informasi ini diberikan dalam bentuk gambar yang menunjukan lokasi pipa dan beban yang diberikan kepada pondasi atau kepada struktur bangunan. Nama dokumen ini adalah “Loading Data Information”. Grup Civil Engineering sangat memerlukan informasi tersebut agar dapat melakukan disain struktur dan pondasi dengan lebih akurat. Hanya saja masalahnya kadang-kadang informasi yang diberikan pada tahap awal project belumlah lengkap dan akurat, sehingga ada kecenderungan terjadinya perubahan besarnya beban yang terjadi yang mau tidak mau harus diberitahukan lagi ke Civil Departemen. Disinilah kadang timbul keramaian.

Kalau dengan departemen Static Equipment dan Rotating Machinery, hubungan lebih banyak dalam hal gambar detil dari equipment yang akan tersambung dengan pipa serta besarnya gaya dan momen yang diijinkan untuk diterima oleh nozzle equipment tersebut. Adakalanya gaya dan momen yang diterima oleh nozzle tersebut melebihi kemampuan dia menerimanya. Jika demikian, maka ada dua hal yang bisa dilakukan, yaitu:

Pertama: piping stress engineer akan mengulang lagi perhitungan dan analisanya, serta kemudian melakukan perubahan seperlunya agar gaya dan momen menjadi berkurang dengan harapan akan memenuhi batasan yang diberikan oleh vendor.

Tapi ini bukannya tidak beresiko, karena berarti akan ada permintaan kepada piping disain untuk merubah disain pipanya, sesuatu yang tentu saja butuh perjuangan untuk menghadapi dan meyakinkan mereka di piping design.

Kedua: Jika besarnya kelebihan gaya dan momen yang terjadi pada nozzle tidak lah terlalu banyak, maka mungkin bisa dilakukan pembicaraan sekaligus permintaan  kepada grup Static Equipment dan Rotating Machinery agar mau menerima kelebihan gaya dan momen tersebut

 Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara mengirimkan gaya actual yang terjadi kepada vendor ataupun pabrik pembuatnya, untuk dilakukan pemeriksaan atau juga perhitungan ulang. Pengalaman mengatakan hal tersebut bisa dilakukan dengan hasil yang memuaskan pihak piping stress engineer.

Apa pun pilihannya, yang jelas hal ini adalah tantangan bagi piping stress engineer untuk bisa menganalisa suatu sistim pemipaan yang sesuai dengan Code dan Standard yang berlaku.

  1. Piping Stress dalam Organisasi Project

 Lead Piping Stress Engineer

Seorang Lead Piping Stress Engineer pada prinsipnya adalah “manager” nya piping stress engineering. Sebagaimana layaknya seorang Lead, maka tugas nya bukan hanya dari sisi teknis saja tetapi juga dalam hal manajerial.

Secara umum, jabatan Lead Piping Stress Engineer bisa juga dianggap sebagai jenjang karir yang bagus sebelum menjadi Lead Piping Enginner. Hal ini karena seorang Lead piping stress engineer diharapkan mengetahui dan mengerti tentang proses dalam sebuah pekerjaan didalam piping engineering, mengerti proses dari Pabrik aatau Plant yang sedang dikerjakan, dan sudah terbiasa berkomunikasi  dan berdiskusi dengan departemen lain.

Berikut ini akan ditampilkan tugas dan tanggung jawab dari Lead Piping Stress Engineer:

  • Sebagai seorang pimpinan grup, maka Lead Piping Stress Engineer harus meyakinkan bahwa semua anggota Stress Engineer mengerti dan memahami prosedur yang dimiliki dan dibuat oleh Kantor Pusat sehunbungan dengan tugas Piping Stress Engineer.
  • Bekerja sama dengan Lead Piping Engineer dalam hal mempersiapkan semua disain data dari proyek yang sedang dikerjakan, menentukan area-area yang diprioritaskan dalam pengerjaannya, dan informasi lainnya.
  • Menyiapkan dokumen “Stress critical line list”, yang akan sangat bermanfaat bagi memudahkan tugasnya dalam mengawasi dan memonitor pekerjaan piping stress engineering.
  • Menyiapkan rencana tenaga kerja atau man-power planning sekaligus memantau penggunaannya.
  • Menyiapkan Piping Stress Analysis Specification dan Design criteria
  • Menyiapkan metode pengerjaan piping stress analysis yang akan menjadi standar bagi semua piping stress engineer didalam proyek tersebut.
  • Membuat Standard Pipe Support specification, termasuk didalamnya menyiapkan persyaratan untuk pipe support khusus untuk proyek yang sedang dilaksanakan, pipe span, dan persyaratan-persyaratan khusus lainnya.
  • Menyiapkan pipe support standard, bekerja sama dengan pipe support engineer atau juga pipe stress engineer yang ditugaskan mengerjakan pipe support.
  • Mempersiapkan dokumen Spesifikasi untuk Expansion Joint jika diperlukan.
  • Mempersiapkan metode penghitungan (kalkulasi) dan disain dari “Trunnion Support”.
  • Membuat format Data Sheet untuk Spring Hanger, datasheet expansion joint, dan juga untuk special item, seperti Mechanical Snubber, Sway Braces dan Rigid Strut.
  • Membuat format dari tabel gaya dan momen yang terjadi pada equipment yang perlu diberikan kepada Vendor melalui Departemen Static Equipment dan Rotating
  • Bersama-sama dengan timnya untuk membuat gambar yang berisi informasi beban dari pipa yang diterima oleh pondasi dan struktur bangunan dari poryek tersebut. Dokumen ini disebut juga “Loading Data Information”. Ini adalah dokumen yang sangat penting sekali bagi Departemen Civil Engineering sebagai basis dalam disain dan perencanaan banyak struktur dan bangunan pada sebuah Pabrik atau Plant.
  • Membuat dokumen berupa check list untuk pekerjaan Piping Stress Analysis. Dokumen ini sangat berguna bagi stress engineer yang akan melakukan pengecekan atas pekerjaan piping stress analysis yang dikerjakan oleh rekan lainnya.
  • Memeriksa hasil pekerjaan stress analysis dan disain pipe support yang dilakukan oleh piping stress engineer lainnya.
  • Memeriksa semua data sheet untuk barang-barang yang kritis seperti spring hanger, expansion joint.
  • Meyakinkan bahwa dalam laporan bulanan proyek memasukan informasi dan perkembangan terakhir dari stress analysis.
  • Setiap ada perubahan atau perkembangan dari LDT (Line Disgnated Table) dari Process Engineering, maka harus diperiksa apakah masih sama dengan Stress Critical Line List. Jika ada perubahan, maka harus dilakukan perubahan atau revisi dari Stress Critical Line List.
  • Ikut memeriksa dengan teliti Piping Material Spesification terutamanya dalam hal ketebalan pipa (pipe wall thickness) dan branch reinforcement.
  • Setiap ada perubahan yang bisa mengarah kepada “Change Order”, maka adalah tugas Lead Piping Stress Engineer untuk memberitahukan kepada Lead Piping Engineer dan meneruskan issu ini ke manajemen proyek, visa Lead Piping Engineer.
  • Laporan akhir dari perhitungan Stress Analsyis.
  • Membantu Lead Piping Engineer dalam menyiapkan laporan akhir proyek.

Piping Sress Engineer

 Tugas seorang Piping Stress Engineer adalah sebagai berikut: namun harap diingat bahwa tugas ini adalah tidak selalu sama antara satu perusahaan EPC dengan perusahaan EPC lainnya:

  • Melakukan perhitungan analisa tegangan atau stress analysis sekaligus memeriksa sistim pipe support yang terdapat pada sistim pemipaan, baik dengan menggunakan metoda formal analisa, metode pendekatan maupun dengan cara isnpeksi visual.
  • Memastikan bahwa didalam melakukan analisa tegangan atau stress analysis, seluruh persyaratan yang digunakan, baik Code dan Standard resmi, persyaratan dari Client, dan persyaratan dari badan lainnya telah diperhitungkan didalam analisa sekaligus hasilnya telah memenuhi standard tersebut.
  • Didalam melakukan perhitungan stress analysis, semua kondisi yang mungkin terjadi pada saat commissioning, start-up, steam-out, saat operasi, maintenance, by-pass, combinasi operasi pompa, dan lainnya sudah diperhitungkan dan dimasukan kedalam “Load Case”.
  • Memastikan bahwa sistim pemipaan yang dianalisa sudah mempertimbangkan dan memasukan pengaruh beban angin “wind load”, “seismic load” sesuai dengan apa yang tertulis pada “Piping Stress Analysis Specification”.
  • Memeriksa besarnya defleksi pada pipa agar tidak melebihi ketentuan yang diatur dalam spesifikasi proyek, terutama pada lokasi di “pipe rack” dan dekat “expansion loops”.
  • Dalam menganalisa sistim pemipaan, harus juga diperhatikan apakah ada pipa yang terangkat (lif-off) pada saat operasi. Jika ada, maka perlu diperiksa apakah aman pada berbagai kondisi perhitungan dan kondisi operasi.
  • Pada saat proyek baru dimulai, piping stress engineer diharapkan sudah harus ikut berdiskusi dengan piping designer untuk mencari dan menentukan disain dan lay out yang optimum, terutama untuk sistim pemipaan yang kritis.
  • Cek dan evaluasi gaya dan momen pada nozzle equipment. Jika melebihi yang diijinkan oleh standard atau vendor, harus segera megirimkan data tersebut ke departemen terkait.
  • Melakukan pemeriksaan besarnya gaya dan momen yang terjadi pada sambungan flanges, seperti di Orifice, Valve, untuk diperiksa akan kemungkinan bocor akiba terlalu besarnya momen lentur yang terjadi.
  • Memepersiapkan dokumen yang berisi informasi beban pada pipe support dan pondasi struktur kepada Departemen Civil.
  • Indikasikan atau beri komen pada stress sketch hal-hal yang dipandang perlu seperti lokasi guide, anchor, spring, beserta besarnya gaya yang terjadi, dan lainnya, serta jangan lupa menginformasikan kepada departemen terkait.
  • Jika ada expansion joint, siapkan data sheet, tentukan ukuran dan kemudian membantu Lead Stress Engineer dalam menyiapkan dokumen pembelian.
  • Siapakan datasheet untuk spring hanger dan juga siapkan dokumen untuk pembelian dan tak lupa informasikan ke piping design mengenai dimensi spring hanger dan termasuk ukuran dan dimensi dari trunnion, untuk “Base Spring”, dan dimensi dari “hanger” secara keseluruhan.
  • Cek gambar equipment dari vendor, dan perhatikan adanya informasi gaya dan momen yang diijinkan, lokasi fix support pada Heat Exchanger, dan buat komen seperlunya jika memang ada, untuk kemudian diteruskan kepada departemen Static Mechanical yang kemudian akan meneruskan ke Vendor atau Pabrik yang membuatnya.
  • Tentukan jenis standard support yang digunakan untuk sistim pemipaan yang sudah dihitung, maupun untuk sistim pemipaan yang tidak dihitung dengan cara menuliskan pada “piping isomteric”. Pada beberapa perusahaan hal ini tidaklah merupakan pekerjaan seorang Stress Engineer, melainkan piping designer. Jika demikian, maka adalah tugasnya Piping Stress Engineer untuk memeriksa apakah standard support yang dicantumkan di “piping isometric”sudah benar sesuai dengan standard.
  • Melakukan disain dan perhitungan special support sekaligus membuat dokumentasi untuk keperluan konstruksi nantinya.
  • Melakukan perhitungan dan disain dari trunnion support terutama yang berada pada sistim pemidan yang kritis. Kemudian, hasil perhitungan dalam bentuk ukuran dan dimensi trunnion diinformasikan di stress sketch untuk dikirimkan ke ke piping design.
  • Jika diperlukan berdasarkan perhitungan gaya dan momen yang terjadi, maka lakukan perhitungan di sambungan cabang yang mungkin memerlukan penguatan (reinforcing pad).
  • Setelah semua sistim pemipaan yang kritis sudah dikerjakan, maka memastikan bahwa semua hal-hal yang penting dari hasil perhitungan sudah dipindahkan ke Stress Sketch, dan sekaligus sudah dikirimkan ke piping design untuk dilakukan perubahan seperlunya.
  • Piping stress engineer kemudian mengecek apakah semua komen yang sudah buat pada stress sketch sudah ditransfer ke “piping isometric”, pada saat tanda-tangan terakhir menjelang IFC (Issued For Construction), yaitu saat gambar siap untuk dikirim ke “lapangan” untuk di bangun. Jika belum, atau ternyata jika ada perubahan disain, maka Stress Engineer harus memutuskan apakah sistim perlu di analisa ulang atau tidak. Dan jika perlu dianalisa ulang, maka berarti “piping isometric” tersebut tidaklah boleh di setujui untuk dikirim ke lapangan untuk proses konstruksi.
  • Setelah semua kalkulasi disetujui, baru kemudian disiapkan laporan akhir dari perhitungan dalam bentuk yang sudah ditetapkan oleh Lead Piping Stress Engineer.
  • Memeriksa dan mereview sistim pemipaan yang tidak termasuk didalam kategori kritis dengan menggunakan metode pendekatan atau juga dengan metode inspeksi visual.
  • Lakukan perhitungan reaksi dari Relieve Valve dan kemudian memasukan kedalam perhitungan stress analysis untuk system tersebut.

Donny

Lulusan Teknik Mesin UI tahun 1991, berpengalaman dalam Piping Stress Analysis, dan sekarang Cerified Project Management Professional dari Project Management Institute, USA dan sedang bekerja di Saudi Aramco

Leave a Reply