Chapter 2: Welcome to London

“Welcome to London Heathrow. The local time now is 5.55 in the morning. Temperature outside is 10 degree celcius” terdengar suara pramugari menyadarkan saya yang sedang termanggu menantap keluar jendela pesawat.

Lima menit kemudian pesawat sudah berhenti dengan sempurna dan segera terdengar bersahut sahutan bunyi seat belt yang dilepas penumpang yang akan mengambil tas tentengan yang tersimpan dia atas cabin.

Ada perasaan deg deg an saat berjalan menuju kebagian Imigrasi. Sudah sering saya baca tentang ketat nya petugas imigrasi Inggris di Terminal Heathrow ini. Saya masih ingat dulu tahun 1997 ketika datang dalam rangka penugasan dari kantor. Banyak pertanyaan diajukan oleh petugas. Istilah orang Padang: “banyak bana gaya nyo..”

“Tenang Don..” bisik saya. “Semua dokumen lengkap kan? Lagi pula kan datang pakai Visa type HSMP. Terus, udah di endorse sama Kedutaan Inggris di Jakarta, surat penawaran kerja juga ada”  Bahkan surat keterangan pengalaman kerja pun saya bawa, entah apa pula gunanya. Tapi biarlah, yang penting lengkap dan hati tenang. Tek henti henti nya saya

“Next” petugas yang berjaga di depan antrian memanggil saya sambil menunjukan loket yang mesti saya datangi.

“ Morning Sir” saya mencoba rileks, sambil menyerahkan passpor dan landing card yang sudah saya isi. Dia kemudian memisahkan landing card dan membuka lembaran pertama yang berisi data diri serta photo pemegang passport, sambil memperhatikan saya. Mudah mudahan masih sama tampang nya, batin saya. Kemudian dia membolak balik halaman, sepertinyan nyari Visa.

“What is your purpose comng to UK?” tanya nya sambil tetap membolak balik halaman passpor.

“ Working” jawab saya.

“I have my HSMP Visa” tambah saya, buat meyakinkan saja.

“OK, go to that place please”, kata nya sambil menyerahkan passport saya sembari menunjuk ke lokasi di sebelah kiri ujung. Masih belum keluar dari Imigrasi, jadi masih belum lolos nih, pikir saya.

Saya perhatikan lokasi kantor yang saya diharuskan melapor agak jauh di ujung sana. Dan untuk kesana, saya mesti melewati banyak orang yang lagi antri. Ah, tengsin juga nih. Tapi tak apa lah. Mau diapakan lagi. Dengan sedikit bergegas saya pun melangkah melewati puluhan orang yang lagi antre menuju kantor yang berada 100 meter dari lokasi saat ini.

Sesampai di tempat, saya dipersilahkan masuk untuk dilakukan semacam test kesehatan. Gak lama Cuma 2 menit. Ok sudah, balik lagi ke coute tadi dan gak lama kemudian saya sudah sampai di tempat pengambilan barang. Karena udah kelamaan, koper saya pun sudah dibereskan sama petugasnya dan di tempatkan dipinggir.

Setelah menemukan koper dan mencocokan dengan tag nya, saya pun kemudian berjalan menuju pintu keluar dan memilih pintu yang berwarna hjau dan bertuliskan “nothing to declare”

Di arrival hall, saya tidak menemukan adanya papan nama dari taxi yang menjemput, seperti yang disiapkan dan dijanjikan oleh Diane. Cukup lama juga saya celingak celinguk seperti orang baru datang di airport. Tiba tiba saya baru ingat bahwa saya disuruh ketemu dia di “Meeting point” yang berada di sebelah kanan arrival hall. Dan benar saja, dia sudah nunggu disitu, cukup lama kaya’ nya, kelihatan dari sikap ya yang seperti sudah tidak sabar. Bodoh amat, kan dibayar ini, gumam saya dalam hati.

“Are you waiting for Donny” tanya saya begitu sampai didepan dia.

“Yes, are you Donny? “ tanya dia.

“Yup. Sorry for being late. Quite busy today at the passport control”, alasan saya.

“Let’s go” katanya sambil berjalan menuju ke pintu keluar menuju gedung parkir yang terletak di lantai 2. Begitu sampai di pelataran parkir, dia bilang saya untuk tunggu disini saja, sementara dia akan menjemput mobil yang cukup jauh. Kasihan kali dia melihat saya, badan kecil tapi koper nya gede plus bawa tentengan dua. Sopir nya bukan ornag bule, tapi dari keturunan India. Cuma dari dialek ngomong nya menunjukan bahwa dia sudah lama tingga di Innggris, medok sekali soalnya, Inggris nya.

Cukup lama dia pergi meninggalkan saya menunggu dengan barang bawaan.  Saya melihat sekeliling mencari tempat duduk. Bah, airport macam mana ini, gak ada tempat duduk buat nunggu taxi. Saya lihat jam di pergelangan tangan saya, yang tadi sebelum turun dari pesawat sempat saya ganti menyesuaikan dengan waktu London.

“Hmm…Sudah jam 6:45 pagi” batin saya. Tapi masih agak gelap. Dan dingin lagi. Walau Cuma 10 derajat Celcius, tapi untuk ukuran orang Padang yang terbiasa 32 derajat Celcius, jelas masih dingin, bingit lagi. Untung istri tercinta maksa saya untuk pakai sweater waktu berangkat dari Jakarta kemaren.

“Kemaren?” Wah iya ya, kan berangkatnya semalam. Dan pagi ini sudah hari Senin, tanggal 3 May 2004. Menurut Diane, hari ini adalah Bank Holiday, jadi termasuk kategory hari libur.

Lagi enak duduk, tiba tiba sebuah mobil sedan tepat berhenti didepan saya. Busyet. Polisi. Ada apa pula dia menghampiri saya.

“Morning Sir”. Dia negor saya begitu. Geli juga denger bule manggil saya Sir.

“Morning” balas saya.

“Are you Okay?” tanya dia lagi.

“Yes, I am okay. Why?”

“Who is the guy?” tanya nya sambil menunjuk ke arah sopir taxit tadi. Ooo, rupanya dia dari tadi memperhatikan saya lagi ngobrol sama sopir taxi itu, dan disuruh nunggu sama koper saya sementara dia ngambil taxi nya. Mungkin pak polisi ini curiga jangan jangan saya dikerjain calo. Apa tampang saya terlalu ndeso apa kali ya..? gumam saya sambil nyengir.

“He is my taxi driver. He asked me to wait here while he’s going to get his car” saya coba jelaskan dengan bahasa Inggris yang sedikit ada logat Padang nya… hihihihihi. Moga moga aja dia menngerti.

“Ok”. Pak Polisi itu pun kemudian ngeloyor pergi meniinggal kan saya. Wah, mengerti dia ternyata, batin saya.

Gak lama kemudian, si sopir taxi pun datang bersama mobil nya. Rupanya dia juga memperhatikan polisi tadi.

“What is he asking you?” tanya nya sambil melirik ke arah polisi tadi.

“Who?. That Police officer? “ tanya saya. “He just asked me if I was okay, It seems that he saw you talking to me earlier”.

SI sopir taxi itu ngedumel. “Busted”. Sambil menaikan koper sya ke bagasi.

Lima menit kemudian, saya dan sang sopir taxi sudah meluncur meniggalkan Terminal 3 Heathrow, London, menuju Hersham, Surrey. Menurut Diane, dia sudah mem-booking kan satu kamar buat saya yang jaraknya gak begitu jauh dari kantor baru saya, di Hersham, Surrey, Greater London.

Dalam perjalanan menuju penginapan, saya gak banyak ngomong. Sopir nya juga gak banyak ngomong. Malah gak ngomong sama sekali. Jadilah saya diam sambil mencoba menikmati perjalanan yang pagi itu masih dingin dan gerimis mulai turun. Ah, jadi ingat lagunya Slam, Gerimis Mengundang.

Kusangkakan panas berpanjangan

Rupanya gerimis,

rupanya gerimis mengundang

Dalam tak sedar ku kebasahan

 

Basah kok gak sadar, protes saya dalam hati.

Tiga puluh menit kemudian, setelah menyusuri Motorway, jalan tol nan gratis, sampai lah saya di penginapan sementara yang sudah di siapin sama Diane, sang agen. Model rumah nya tipe detached , yaitu rumah yang tidak nempel dengan rumah tetangga kiri kanan nya. Dan ini termasuk rumah kategori mahal. Tapi kok gak ada papan nama nya, misalnya Hotel Melati. Ah, sudahlah pikir saya.

“Donny? “ sapa seorang Nenek yang datang meyambut. Nenek? Ya..nenek nenek…bukannya seorang receptionis cantik. Yah, apes deh. Uppss.

Sambil berjalan menuju rumah dia menjelaskan tentang kamar yang sudah di booking sama Diane untuk 7 hari serta berapa sewa nya. Kamarnya terletak di lantai 2. Sebagamana umumnya rumah di Inggris, lantai 1 atau juga lantai dasar hanya untuk dapur, ruang tamu dan ruang santai. Setelah meletakkan koper dan tas punggung, saya diantar menuju dapur.

“This is kitchen. There is milk in the fridge and also some cereals, toast for your breakfast”.

Lho, disuruh bikin sendiri toh, gumam saya. Gak apa lah. Tapi, biar jelas, saya tanya sama dia.

“Breakfast by myself. I mean, not preapred by you?”

“No”. jawabanya lugas.

“Ok”.

Setela acara penjelasan selesai, saya pun segera menuju kamar. Mau leyeh leyeh dulu ah. Lumayan, masih jet lag. 12 jam penerbangan dari Kuala Lumpur ke London, naik economy class lagi. Pegel nya lumayan.

Sesampai dikamar, saya langsung menghempaskan badan penat ini keatas kasur. Mata saya lansgug menatap langit langit kamar yang berwarna cream. Namun yang terbayang malah keluarga yang ditinggal di Jakarta. Terbayang istri dan anak yang mengantar ke Cengkareng. Juga terbayang malam sebelumnya kita berdoa bersama agar perjalanan ke Inggris demi masa depan keluarga berjalan dengan lancar dan juga, ini yang penting, setelah selesai Nasha, anak saya yang pertama ujian kenaikan kelas 2, mereka sekeluarga langsung menyusul ke London. Masih terbayang beratnya melepas mereka di Jakarta. Terutama si kecil yang baru berumur 7 bulan dan kakak nya 3 tahun.

Apa sih sebenarnya yang mendorong saya untuk pindah ke Inggris meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan di Jakarta, terlepas dari mimpi indah saat masa kecil dulu? Apa ya? Kalau mau jujur sebenarnya adalah ada faktor dorongan yang kuat dari istri. Sangat kuat malah. Maklum, orang Padang. Pertimbangan utama nya adalah pendidikan untuk anak anak kami. Jarak diantara mereka adalah 3 tahun. Dalam perspektif keluarga, pas banget jarak tiga tahun itu. Gak capek lah buat istri…

 

(Bersambung)

Donny

Lulusan Teknik Mesin UI tahun 1991, berpengalaman dalam Piping Stress Analysis, dan sekarang Cerified Project Management Professional dari Project Management Institute, USA dan sedang bekerja di Saudi Aramco

Leave a Reply