Chapter 1: The Beginning

“Mau ke London?” tanya petugas tersebut sambil memeriksa paspor dan borading pass saya.

Saya mengangguk.

“Iya”

“Mau kerja atau sekolah” dia tanya lagi sambil tangannya sibuk membolak balik halaman paspor saya, mungkin dia mau cari tahu visa jenis apa yang tercantum.

Harusnya dia bisa melihat bahwa type visa saya adalah untuk visa kerja, batin saya. Ah, mungkin dia Cuma pengen tahu aja sekaligus ngetes saya.

“Silahkan…have a nice flight” akhirnya dia mempersilahkan saya masuk ke ruang tunggu sambil menyerahkan kembali paspor dan borading pas saya.

Perlahan saya masuk ke area ruang tunggu, sambil mencari lokasi tempat duduk yang masih kosong. Saya paling suka mencari tempat duduk di dekat jendela ruang tunggu, dimana kita bisa melihat aktifitas yang dilakukan oleh petugas di lapangan di sekitar pesawat. Ah untung masih belum terlalu banyak orang yang datang. Segera saya meletakan tas jinjing disebalah kursi yang masih kosong dan menghempaskan badan ke kursi sebelahnya.

Lama saya terdiam. Masih terasa seperti mimpi.

“Is it real” gumam saya dalam hati, sambil memperhatikan boarding pass didepan saya.

“Kuala Lumpur to London Heathrow. MH0002, Malaysia Airlines, Economy Class, 2 May2004”, desah saya pelan.

“Wow”

“I am going to London. By myself”

“Really???”

Sambil menyenderkan tubuh kecil ini ke sandaran kursi. Saya memejamkan mata. Ingatan saya langsung terbang ke runtutan kejadian tiga bulan lalu hingga hari ini. Waktu itu saya sedang di Singapore, kerja bro, bukannya libur, mana mampu saya liburan ke Singapore.

Sore itu saya berjalan sedikit bergegas menyusuri jalan Robinson Road menuju ke kantor Pos. Dalam genggaman saya sudah ada amplop besar dan agak tebal karena berisi semua dokumen baik asli maupun photo copy. Siap di kiirim ke kantor nya Workpermit UK yang ngurusin Visa Kerja type HSMP (Highly Skilled Migrant Program).

Sedikit informasi, HSMP ini adalah program yang dibuat oleh UK Border untuk menarik tenaga ahli dari belahan dunia lain untuk datang dan bekerja di Inggris. Salah satu keuntungan dan jadinya daya tarik terbesar adalah Visa ini tidak memerlukan adanya sponsor dan juga tidak memerlukan ada nya pekerjan yang sudah siap menuggu kita saat tiba di Inggris. Jadi, kalau udah dapat Visa ini tertempel di Passport kita, maka kita sudah bsia lenggang kangkung ke London tanpa harus takut ditanyain sama petugas Imigrasi sono: üdah ada kerja belum disini”. Hebat kan.

Tapi, untuk bisa mendapatkan approval Vissa type HSMP ini ada beberapa persyaratan, yang menurut saya nggak gampang.  Skema visa ini mulai dikenalkan oleh Pemrintah Inggris pada tanggal 28 January 2002. Ini adalah point based system yang mengharuskan untuk mempunyai point minimal 75, agar bisa diberi Visa type ini. Begitu HSMP ini di luncurkan, saya langsung semangat mau melihat apakah saya bisa lolos dengan persyaratannya. Pindah dan tinggal di Inggris adaah impian saya sejak kecil. Jadi, program ini bak mimpi indah di siang bolong. Langsung semangat awak.

Segera saya buka Internet yang, yang leletnya minta ampun, maklum masih sistem “dial-up”. Namun sayang seribu sayang, begitu membaca persyaratannya, lemes sudah. Point nya gak mencukupi. Yang paling berat adalah pendapatan alias gaji yang tidak mencukupi, tahun 2002 itu. Lagi pula saya lulusan S1 alias Insinyur thok.

Namun saya bukanlah orang yang cepat berputus asa. “No chance”, saya bilang sama diri saya sendiri. “Jangan putus asa, Donny. Mungkin sekarang belum bisa, tapi tetaplah berusaha dan berdoa”. Saya pun ajak istri saya berdoa agar kita diberi jalan oleh Allah SWT. Sambil tetap bekerja di Perusahaan Engineering di Jakarta, saya pun tidak pernah lupa berdoa dan berdoa smabil terus melihat peluang.

Banyak hal yang memotivasi saya kenapa sangat berkeinginan untuk menjelajahi Inggris khususnya dan Eropa umumnya. Pertama, ingin merasakan kehidupan yang lebih nyaman dari di Jakarta. Eit, jangan salah dulu. Bukan berarti dulunya kehidupan ku tak nyaman, salah kali itu. Dulu, hidupku nyaman juga lah, nggak melarat-larat amat. Lulus Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Indonesia, dengan IP pas-pasan, bulan May tahun 1991.

Alhamdulillah, 6 bulan sebelum lulus sidang, sudah diterima bekerja di IKPT, walaupun dengan konsekuensi harus mau gajinya dibayar separo, maklum masih dianggap separoh lulus. Tiga belas tahun lamanya malang-melintang di dunia Engineering sebagai Piping Stress Analysis Engineer, telah menghasilkan banyak suka dan tentu saja, duka.

Selama kurun waktu 13 tahun itulah, mulai 1990 sampai 2003, saya merasakan dan mendapatkan sebuah keberuntungan yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Keberuntungan itu adalah kesempatan bekerja dan berdiskusi bersama-sama Expat di bidang Stress Analysis dari Jepang, Inggris dan Amerika Serikat. Selama itulah, terjadi proses pengenalan, pelatihan, pembelajaran dan pencerahan sekaligus pematangan kemampuan saya dibidang Piping dan Stress Engineering.

Betapa tidak. Dalam kurun waktu itu, IKPT, banyak mengerjakan mega project mulai dari Ammonia and Urea Project bersama MW. Kellogg Houston USA dan Toyo Engineering Corporation Japan, LNG Project Train G dan Qatargas LNG bersama Chiyoda, dan Petrochemical Project serta Geothermal Project.

Dalam masa itu juga, saya berkesempatan di kirim ke Luar Negeri baik dalam bentuk Job Training (London dan Los Angeles) maupun dalam bentuk Business Trip (Amsterdam, Lille, Paris). Juga, sempat merasakan nyamannya jadi Project Engineering Manager tahun 2002 kemaren.

But, at one point, saya mikir juga. What next?

Karena sudah pernah tinggal di Los Angeles dan London 1 tahun, kemudian setelah itu sempat melihat Paris dan Amsterdam, kok kaya’nya enak juga ya tinggal di luar negeri. Apalagi kalau anak-anak bisa mengeyam pendidikan sono, kan bagus juga buat bekal masa depan mereka. Paling tidak bisa menambah wawasan mereka bahwa didunia ciptaan Allah ini banyak kebudayaan dan suku bangsa tersebar, banyak daerah yang bisa di-explore, melihat bahwa perbedaan itu ada.

Akhirnya mencoba mencari tahu, lewat internet utamanya. Sebenarnya program HSMP dari Pemerintah Inggris sudah sejak tahun 2002 jadi incaran. Soalnya, setelah melihat-lihat situasi, kaya’nya cuma program HSMP ini lah jalan terbaik untuk bisa masuk dan menembus pasar tenaga kerja Inggris. Karena, kalau hanya menunggu dan mengandalkan adanya Perusahaan Inggris yang bersedia mensponsori Work Permit kita, itu ibarat menunggu godot. Susah. Dan lama.

Nah, dengan HSMP, kita bisa sedikit banggalah sambil bisa mengatakan ‘gua nggak butuh elu jadi sponsor gua’..he.he.

Tapi waktu itu, 2002, pas baru di luncurkan, persyaratannya tinggi kali. Nilai minimal mesti 75. Waktu itu dihitung-hitung skor baru 55, yah masih jauh. Yang bikin skor nggak naik-naik itu adalah pendapatan satu tahun terakhir mesti, kalau nggak salah lho, sekitar 120 juta rupiah. Mana cukup gaji setahun waktu itu, walau plus bonus sekalipun. Lagi pula, agak ‘kurped’ alias ‘kurang pede’.

Nah, tahun 2003 kan dapat kesempatan kerja di Singapore. Sebenarnya adalah pengiriman dari kantor Indonesia ke kantor pusat Asia Pacific nya yang di Singapore. Jadi gajinya rupiah, dan di Singapore dapat Apartment plus uang saku. Disinilah peluang terbuka. Dengan gaji yang jelas lebih gede dibanding sebelumnya, maka setelah mendekati 1 tahun, dihitung-hitung ternyata memenuhi kuota yang ditargetkan untuk dapetin visa type HSMP. Apalagi ternyata pada tahun 2003 akhir batas nilai minimal untuk lulus sudah diturunkan menjadi 65 saja.

Perhitungan saya adalah:

  1. S1 dari FTUI dapat nilai 15
  2. Pengalaman kerja diatas 10 tahun, termasuk didalamnya 5 tahun sebagai specialist /management, nilainya 50.

Dengan dua faktor diatas saja kan sudah menembus nilai 65. Akhirnya gaji setahun terakhir diikutkan juga sebagai faktor penambah. Waktu itu, saya menyertakan surat dari kantor yang lama yang membuktikan bahwa saya sudah berpengalaman 13 tahun dan pernah menjabat posisi management atau pun juga specialist. Juga diserahkan slip gaji selama setahun terakhir, ijazah S1 asli plus terjemahan.

Ada satu lagi yang saya ikut kirimkan sebagai bahan pendukung, yaitu surat dari University of Newcastle Upon Tyne, UK yang mengatakan bahwa saya diterima untuk mengambil Master Degree bidang Pipeline Engineering. Kenapa perlu dilampirkan? Soalnya, ada persyaratan yang mengatakan bahwa gelar S1 kita mesti diakui oleh Inggris. Nah, saya kan bingung, apa syaratnya agar gelar kita diakui? Saya kan nggak terdaftar di Institute Mechanical Engineers – nya Inggris.

Akhirnya saya lampirkan saja surat itu, disertai surat yang saya buat sendiri yang menyebutkan bahwa Surat Keterangan dari University of Newcastle Upon Tyne ini hanyalah sebagai pembuktian bahwa gelar S1 saya diakui, buktinya diterima, begitu kira-kira argument saya waktu itu.

Hal lain yang saya lampirkan adalah email dari agent yang menyebutkan adanya lowongan untuk profesi saya. Hal ini dianggap perlu karena memang ada persyaratan bahwa kita, jika sampai di Inggris nanti, harus mampu melakukan dan meneruskan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian kita saat ini.

Akhirnya, 29 Desember 2003, setelah semua dokument sudah disiapkan, asli + fotokopi, dengan sedikit harap-harap cemas, saya pun berjalan menuju Kantor Pos di dekat kantor Singapore Airlines, jalan Robinson Road, Singapore.

 

Lampu tanda menyeberang masih menyala merah didepan Kantor Pos Singapura di jalan Robinson Road. Bah, kalau di Jakarta saya sudah main nyebrang aja nih, omel saya dalam hati. “Sabar Donny””. Gumam saya dalam hati.

Hijau. Setengah berlari saya menyebrangi jalan Robinson dan langsung memasuki Kantor Pos. Mudah mudahan mereka belum tutup. Soalnya kalau tutup, wah berabe, mesti balik besok, rugi kan. Mana mesti minta ijin lagi sama bos di kantor.

Masih sedikit tersengal saya memasuki kantor pos itu.

“Still open?” Sapa saya ke engkoh yang lagi berdiri sibuk memasukkan paket ke dalam keranjang siap untuk di hantarkan. Dia melirik saya.

“Yes, we are still open. Where do you  want to send?” kata si engkoh.

“Alhamdulillah”.

“London, United Kingdom” balas saya dengan ceria.

Selesai urusan dengan kantor pos, saya sebenanrya mikir juga. Aman nggak ya semua dokument asli dikirim. Dokumen asli lho, ijazah asli, terjemahan ke Bahasa Inggris juga asli, surat keterangan pengalaman kerja juga asli. Kalau hilang di jalan gimana? Basah misalnya? Berbagai pikiran yang nggak-nggak bersliweran dikepala. Ada juga sih keinginan membatalkan, tapi apa dikata, sudah masuk ke pengiriman.

Sudahlah, perbanyak aja berdoa. Dari kantor pos saya langsung ke Mesjid di jalan Palmer Road, sholat sunat dan baca yasin, biar dokument nya selamat dan, kalau bisa, aplikasi Visa nya di approve.

Waktu berjalan amat lambat. Seminggu kemudian, saya dapat email dari Workpermit UK, bahwa paket saya sudah diterima dan sedang diproses. Alhamdulillah. Yang penting dokument penting nan asli nya tidak hilang. Emailnya juga mengatakan bahwa prosesnya diperkirakan, sampai keputusan keluar, adalah 2 bulan. Nggak apalah, saya pikir.

Tiga hari kemudian, datang lagi email, kali ini isinya mengagetkan. Kartu kredit saya, yang saya gunakan untuk membayar “fee” nya yang sebesar kira-kira 3.6 juta, jumlah yang gede juga buat saya, ternyata ditolak, katanya dana nya nggak mencukupi. Kelabakan juga waktu itu. Langsung telpon ke Jakarta, minta dibayarin dulu ke BNI. Akhirnya setelah haru-biru, datang lagi email yang menyatakan bahwa pembayaran sudah beres. Alhamdulillah.

Tapi, karena ternyata pelamar untuk Visa HSMP ini membludak, maka diperkirakan waktu proses akan sedikit molor. No worries, saya bilang.

Setelah itu, I tried to make my life as normal as possible. How could it be?

Setiap hari itu bayangannya cuma: di-approve nggak ya aplikasi nya? Kebetulan di kantor project nya sudah selesai, jadi kita lagi menghitung hari kapan mau dipulangkan ke Jakarta. Sementara, agent di London ngirim email ngasih tahu bahwa ada lowongan di Mitsui Babcock Wilcock, London. Saya bilang, saya belum punya Visa Kerja, dan juga lagi mengirim aplikasi HSMP. Mungkin 2 bulan lagi, saya bilang.

Wah, kelamaan, kata dia. Yah, sudah lah, mungkin nggak rezeki kali, saya menghibur diri.

Akhir Maret 2004, tepatnya tanggal 29, Istri saya nelpon dari Jakarta. Katanya ada surat dari Workpermit UK. Langsung saya suruh bacain di telepon.

Isinya: “….we are pleased to inform you that your application for Highly Skilled Migrant Programme has been approved.”

“Alhamdulillah…” desah saya pelan. Sejuta perasaan bercampur aduk saat itu. Yang jelas pasti luar biasa senangnya. Waktu itu di kantor sudah jam 4 sore. Masih banyak orang di lantai saya. Kalau nggak, mungkin saya sudah berteriak keras kesenangan. Betapa tidak. Penantiannya berakhir sudah dalam kemenangan. Keyakinan saya da istri serta doa kami pun akhirnya di ijabah oleh Allah SWT. Hal yang sangat di-ingin kan oleh hampir seluruh orang, yaitu mendapatkan Visa kerja type HSMP, yang memungkinkan saya datang ke London tanpa harus disponsorin oleh perusahaan, akhirnya saya dapatkan.

“Alhamdulillah ya Allah”

Sore itu juga saya langsung ngirim email ke agent di London. Setelah itu bergegas pulang ke apartment, di Orchard Road.

Sesampai di Apartment, jadi bingung juga. Lha, istri sama anak anak di Jakarta. Mau merayakan kegembiraan ini sama siapa? Tapi tak apa lah.  Besok saya pun berniat untuk pesan tiket Garuda pulang sebentar ah, ke Jakarta, mumpung juga mau libur tahun baru.

Malam itu, setelah sholat Isya dan makan malam sekadarnya, saya pun membaringkan tubuh ini dan mencoba memejamkan mata. Istirahat dulu, besok masih mau bekerja, gumam saya.

 

&&&&&&&&&&&&&

 

Jarum jam baru menunjukan diangka 7 pagi, tapi matahari sudah mulai menyapa dengan ramah.

Pagi itu, awal April 2004, pintu keluar Stasiun MRT Tanjong Pagar yang menggunakan tangga berjalan (escalator) penuh dengan para pekerja yang akan memulai aktifitas mereka. Kebanyakan mereka bekerja di daerah Anson Road, tapi sebagian juga berjalan menuju Robinson Road atupun Maxwell Road.

Dari pintu keluar Stasiun, saya mengambil arah ke kanan menuju Anson Road, markas besar Kellogg Brown and Root Asia Pacific. Dalam pikiran mulai menari-nari menerka apa gerangan yang akan didapat di email hari ini.

Sudah 3 hari ini saya melepas imel ke agent di London untuk memberitahukan bahwa Visa HSMP alias surat sakti untuk bisa bekerja di Inggris sudah diterima dan disetujui oleh Pemerintah Inggris melalui imigrasinya.

Dan sejak kemaren, sudah berbalas imel dengan Diane Rysdale, sang agent, mengenai opportunity di Air Products, London. Pagi ini, seharusnya jika sesuai rencana, dia akan mengirim email lagi yang isinya memberitahukan ‘additional information’ tentang job di Air Products.

Terus terang saja, awal nya saya nggak begitu paham apa sih itu Air Products. Pikiran pertama yang berkelabat adalah ini perusahaan sepertinya Vendor.

Searching di Google mengarahkan ke Air Products website, yang isinya lebih banyak soal produk mereka seperti Hydrogent Generation, Nitrogent Generation, dan kebanyakan seperti jualan gas sama tabung nya sekalian.

Whatever, wait and see aja dulu lah.

Sampai di didepan lift kantor, seperti biasa security minta kita menunjukan ID Card kita, baru diijinkan memasuki area kantor. Tepat jam 7.15 sudah duduk didepan komputer yang sudah ‘on’. Dengan perasaan tidak sabar, langsung membuka private email yang di yahoo dot com.

Tepat seperti dugaan. Ada email dari Diane Rysdale.

Isinya: good news. The client interested with my CV and they wanted to set up a telephone interview. Wow.

Makin semangat untuk cari tahu tentang Air Products. Akhirnya baru tahu bahwa Air Products ini adalah Eropa Headquarter untuk Air Products and Chemical Incorporation di USA atau lebih dikenal sebagai APCI.

APCI adalah perusahaan besar yang memegang lisensi Main Cryogenic Heat Exchanger, jantung nya LNG Plant. Lho, jadi Air Products ini perusahaan besar ya, wah jadi malu hati nih. Soalnya sudah kadung punya anggapan yang nyeleneh, misalnya, yah ..Air Products perusahaan apan yah..? Biasa, tahunya kan cuma EPC Company plus Oil Company.

Singkat cerita, jadilah disepakati tanggal interviewnya.

Sore itu, tepat jam 5 sore, soalnya janjian nya memang jam 5 sore waktu Singapore atau jam 9 pagi waktu London, telepon di meja berdering. Begitu diangkat, terdengar suara berbahasa Inggris tentunya, beraksen British.

Setelah berbasa-basi sebentar, saya sudah bersiap-siap bakalan ditanya soal teknis piping stress analysis.

Tapi si boss masih cerita soal project mereka sambil nanya project yang saya pernah kerjakan, utamanya sih dia lebih membicarakan yang LNG nya.

Wajar juga sih, soalnya Air Products kan lebih banyak mengerjakan Cryogenic Project, yaitu project yang mempunyai temperatur design nya minus 167 C.

Sepuluh menit saling bertukar cerita soal project, dia langsung menutup pembicaraan dengan: ” okay, that was enough to know about your experience. When do you think you can start working here?”

What? That’s all? Dalam hati saya berteriak. Terus terang kelimpungan juga. Nggak siap. Saya pikir dia akan nanyain secara detail dibidang teknis, soalnya dia kan Manager nya Piping Stress sekaligus Manager Cold Box.

Saya bialng baru bisa paling awal May. Akhirnya, setelah disepakati dia bilang lebih baik mulai tanggal 3 May 2004, karena tanggal 2 May nya, Senin adalah Bank Holiday, jadi mulai Selasa.

Selanjutnya dia bilang bahwa dia akan mengontak Diane Rysdale, my agent.

Malamnya, Diane menelpon ke apartment dan mulai bicara soal detail kontrak. Saya minta agar dia mengirimkan juga draft kontrak tersebut ke email yang di yahoo.

Besoknya, setelah mempelajari bunyi kontrak, saya sebenarnya aga ragu juga. Soalnya kontraknya berbunyi untuk 6 bulan. Habis itu gimana?

Keraguan mulai menggantikan kegembiraan. Apa betul mau melepaskan kerjaan di Singapore yang notabene adalah pegawai tetap dengan menjadi kontrak di Inggris? Gimana kalau misalnya kontraknya habis terus nggak dapat lagi kerjaan, kan repot?

Saya email lagi si Diane dan mengutarakan keraguan dalam hati. Seperti biasa nya sifat agent, dia pun menenangkan saya dengan mengatakan ini adalah big ooprtunity dan biasanya contractnya rolling, artinya akan diperpanjang terus.

Iya kalau diperpanjang? Kalau nggak? That’s a risk, kata saya dalam hati.

Do you really want to take that risk with you and your family?

Saya pun diamkan dulu pikiran ini. Beberapa hari kemudian si boss ngirim email lagi mengatakan dia mau menelpon jam 5 sore waktu Singapore.

ernyata kabarnya kurang enak. Ada deadlock dengan agent membicarakan berapa fee yang akan diberikan oleh Air Products buat sang agent. Nothing to do with you, he said.

Beberapa hari kemudian, akhirnya si agent mengirim email dan menelpon juga bahwa segala sesuatu sudah beres dan saya ditunggu kedatangannya di kantor Air Products, London pada tanggal 4 May 2004 pada jam 9 pagi.

Dia pun juga memberikan informasi mengenai lokasi kantor dan memberitahukan kepada saya dimana saya bisa menginap sementara saya mencari kontrakan.

Oky, one problem has been solved, with another problem come up.

Saya belum punya Entry Clearance alias Visa untuk masuk ke Inggris. Saya itu baru punya selembar surat approval dari Work Permit UK yang mengijinkan saya untuk datang dan bekerja di Inggris. Tapi untuk bisa masuk ke Inggris, tetap aja saya mesti mendapatkan Entry Clearance dari Kedutaan Inggris di Jakarta.

Sedangkan saat ini, hari ini tanggal 9 April, saya masih tugas di Singapore dan untuk bisa resign kan mesti minta “dipulangkan” dulu ke kantor Jakarta, baru resign di Jakarta.

Nah, inilah masalahnya. Kantor Singapore belum punya niat memulangkan kita-kita ke Jakarta, ada 5 orang sih yang tinggal, termasuk saya.

Apa daya?

Akhirnya, nekat ngomong sama Piping dan Mechanical Manager, namanya Siva, minta pulang aja deh Pak Siva, alasannya anak-anak dan keluarga sudah di Jakarta, jadi kangen nih.

Siva nggak bisa mengambil keputusan, dia sarankan saya bicara sama Engineering Manager nya. Weleh-weleh. Terpaksa memberanikan diri menghadap ke Pak EM. Untung orang nya baik. Setelah basa-basi, akhirnya dia setuju, asal Siva juga setuju. Mbolak balik aja nih.

Saya pun turun lagi menghadap Siva, Pak EM sudah oke, sekarang katanya terserah sampeyan, ngomong nya bahasa Inggris dong.

Pak Siva melihat saya lama, akhirnya dia setuju. “Next weekend you can go home”. Yesss. Mungkin Siva sudah mengerti bahwa ni anak pasti mau keluar nih… so what?

Tanggal 18 April 2004, dengan perasaan lega saya pun menuju Changi Airport bersama Istri yang datang menjemput ke Singapore, biasa ..soalnya dia mau jalan-jalan dulu sebelum pulang.

Senin langsung pesan ticket Malaysia Airlines, one way ticket aja. Pulang nya gak jelas kapan.

Hari Senin pun langsung masuk kerja ke kantor Brown and Root Indonesia di BEJ Jakarta.

Hari Selasa, sesuai dengan rencana, saya pun berangkat ke Kedutaan Inggris di Bunderan HI untuk mengurus Entry. Saya pikir naik Busway, aja, toh Cuma lurus aja dari BEJ. Baru kali itu tuh saya naik busway.

Saya pikir deket. Ternyata lumayan juga. Turun dari Halte Bus di Deutch Bank, saya bergegas masuk dan menuju lift untuk ke bagian Visa atau Kconsular Section. Setelah melewati sekurity sambil menunjukan form yang saya donwload dari Internet, saya un dipersilahkan masuk keruangan tunggu, menunggu giliran dipanggil.

Sambil nunggu, saya sempat berbincang dengan sesama pengunjung yang mau ngurus visa juga. Disitu saya baru tahu bahwa ada kemungikanan Visa akan selesai dan passport bisa diambil setelah 3 hari. Apalagi kalau mesti di wawancara, bisa lebih lama lagi. Wah, jadi kebat-kebit nih. Padahal minggu depan sudah mesti berangkat nih.

Pas dipanggil nomor antriannya, saya pun langsung menuju counter. Bayar fee, dan kemudian menyerahkan semua dokument yang diperlukan. Yang melayani waktu itu seorang ibu Indonesia, bukan bule. “My good luck or bad luck?” berdoa aja dalam hati lah, semoga lancar, gumam saya.

Sambil meneliti dokumen yang saya berikan, si ibu menatap saya. “Proses pengurusan membutuhkan waktu Cuma 2 hari. Jadi datang lagi hari kamis ya Mas”.

“Baik buk”

Dalam hati saya berdoa mudah-mudahan tidak pakai acara wawancara segala, kalau pake wawancara, kacau sudah.

Dua hari kemudian, dengan berdebar-debar menuju Kedutaan Inggris. Selalu kebiasaan saya untuk membaca Ayat Kursi jika menghadapi hal hal seperti ini. Setelah melewati sekuriti dan duduk diruangan tunggu, nama saya pun di panggil. Masih Ibu yang sama. Dia memberikan ke saya passpor yang ternyata sudah ditempelkan Entry Clearance, dan sambil tersenyum si Ibu menjelaskan bahwa nanti kalau Istri dan anak mau ikut tinggal dikirim copy paspor yang Visa nya sudah di cap sama petugas Imigrasi Inggri di Hetahrow.

Wow…Alhamdulillah. Dengan perasaan yang meluap, saya pun bergegas turun ke lantau dasar. Sampai diluar, saya pun langsung telpon istri.

“Ma…Alhamdullilah ..Visa udah dapat.” hampir berteriak saya di telpon megabarkan berita gembira ini ke sang Istri. Bodoh amat ama orang disebelah yang melihat aneh ke saya.

Alhamdulilh. Satu lagi masalah sudah teratasiteratasi.

Ada satu masalah lagi yang belum. Yaitu resign dari kantor. Sekarang udah gak ragu ragu lagi,. Pede berat. Lah iya lah. Apalgi yang ditakutkan? Visa ke Inggris sudah dapat. Kontrakkerja udah ditandatangani. Kerjaan juga udah menunggu. Tiket peswat juga udah di beli. Koper udah disiapkan. What else could possibly wrong, donny?

Astagfirullah. Gak boleh begitu ah, saya marahin diri sendiri. Calm down. Saya baca ayat Kursi lagi. Seperti biasa.

Sekarang, lebih baik memikirkan bagaimana caranya mengundurkan diri dari kantor, padahal sudah mesti berangkat tanggal 2 May 2004, dan sekarang tanggal 22 April 2004, jadi saya hanya unya waktu 1 minggu. Biasanya berapa lama sebelumnya ya mesti diajukan pengunduran diri?

Dari Kedutaan Inggris di Thamrin, saya langsung balik ke Kantor. Segera saya menuju ke ruangan HR Manager nya. Wah, Alhamdulilah, seminggu cukup sebagai notice untuk resign ternyata.

Akhirnya saya pun mengirim email pengunduran diri yang di mulai seminggu setelah tangal pengiriman, plus saya juga diperkenankan untuk pergi lebih awal dengan menggunakan sisa cuti saya.

So, everything is done now. Pheww. Kalau dipikir pikir, sejak diterima surat approval dari Workpermit UK tanggal 29 Maret 2004 sampai resign dari Brown and Root Indonesia tanggal 23 April 2004, banyak sudah kejadian dan proses pengurusan yang dimudahkan oleh Allah Subhanahuwata’ala. Tak henti henti nya saya mengucapkan syukur Alhamdulilah atas nikmat dan rahmat dari Allah.

Mulai dari dapat lowongan kerja, kemudian di interview lewat telphone, review kontrak kerja, negosiasi soal term and condition, bingung soal kontrak yang Cuma enam bulan, kemudian minta dipulangkan dari Singapore, dimana yang lain malah minta diperpanjang penugasannya, ngurus Visa ke kedutaan Inggris di Thamrin, deg degan takut Kedutaan Inggris nya minta wawancara, beli tiket dan akhirnya ngomong sama HR untuk mengajukan pengunduran diri.

Semua dilakukan dalam waktu kurang dari sebulan.

Alhamdulillah.

Minggu malam, 2 May 2004, dengan diantar ke Bandara Soekarno-Hatta oleh keluarga besar, maklum orang Indonesia kalau mau bepergian kalau nggak satu kampung yang ngaterin kurang afdol kesannya, saya pun meninggalkan Indonesia dengan menggunakan Pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH002 tujuan London via Kuala Lumpur.

Berat sekali rasanya meninggalkan Istri dan 3 anak ku, apalagi yang kecil masih berumur 9 bulan, lagi lucu-lucunya. Tapi, ibarat pejuang menuju medan laga, demi cita-cita bersama, kita berpisah sementara, Honey. Dan tekatnya, 3 bulan kemudian paling lama, mereka semua harus sudah menyusul ke London.

&&&&&&&&&&&&

“Excuse me, Sir. Time to boarding” sapa lembut petugas Malaysia Airlines membangunkan saya dari lamunan panjang.

Saya pun kemudian bergegas menuju pintu pesawat. Rupanya saya termasuk penumpang terakhir yang akan boarding bersama beberapa orang penumpang lainnya.

Ah, ternyata perugas check in tadi menempatkan saya di Aisle. Ok lah. Hm, disebelah saya ternyata bule Inggris. Setelah seyum sekilas, saya pun duduk di kursi disebelah dia. Tak lama kemudian pesawat pun mulai bergerak ke runway, siap siap untuk take off. Malam itu pesawat MH002 tujuan London Heathrow ternyata penuh. Full house. Lima belas menit kemudian, pesawat Boeing 777 tersebut sudah terbang di ketinggian 35000 kaki.

Hampir tengah malam ketika makan malam mulai dihidangkan. Menjelang tidur malam, sesuai dengan kebiasaan saya kalau naik pesawat meunju tempat yang baru, saya pun membaca surat Yasin, dalam hati tentu nya.

Satu hal yang saya juga syukuri adalah tanpa disadari saya bisa hapal Surat Yasin, yitu surat ke 36 dan terdiri dari 83 ayat.

Gak saya sadari adalah karena memng tidak berniat menghapal. Ceritanya, tahun 1997, saat saya di tugaskan ke Kantor Brown and Root di London, saat itu saya pergi meninggalkan istri saya yang sedang hamil anak pertama. Sedih sekali waktu itu meninggalkan istri tercinta. Baru married soalnya. Gimana coba.. 🙂

Nah waktu tinggal di Wimbledon, setiap malam saya selalu mebaca Surat Yasin yang saya niatkan disampaikan ke Istri dan anak dalam kandungannya. Hampir setiap hari selama setahun saya selalu membaca Yasin selepas Maghrib. Kecuali weekend dan pas liburan ke Jakarta. Soalnya kan tinggal sendirian, gak bawa keluarga.

Ternyata, dari kebiasaan membaca Yasin tersebut, bisa membuat saya jadi hapal, tanpa saya sadari. Sampai sekarang. Alhamdulillah.

 

(Bersambung)

Donny

Lulusan Teknik Mesin UI tahun 1991, berpengalaman dalam Piping Stress Analysis, dan sekarang Cerified Project Management Professional dari Project Management Institute, USA dan sedang bekerja di Saudi Aramco

Leave a Reply