Spread Your Wings

Saya termasuk orang yang suka melihat kebelakang. Melihat jalan yang sudah saya lalui sambil berpikir apa yang sudah saya jalani, seberapa banyak sih hal yang bermanfaat yang sudah saya perbuat, apa sih manfaat yang sudah saya berikan kepada diri saya, keluarga, sanak saudara, handai taulan, wuihh banyak kaliii, serta hal apa saja yang bisa saya perbaiki untuk kedepannya.

Tapi, bak kata si Noel Galagher, “don’t look back in anger”, off course I am not. Namun bagi saya, satu hal yang pasti, dengan melihat kebelakang, saya sangat meyakini bahwa semua itu sudah merupakan suratan nasib kita seperti tertulis di kitab yang tintanya sudah kering; Lauhul Maufuz.

20160710_154017The flash back, saat 1990, ketika saya diterima “bekerja” di IKPT, dan ketika saya ditempatkan di bagian Piping Engineering, khususnya lagi Piping Stress Analysis, terus terang saja, seperti apa masa depan yang ada belumlah begitu jelas. Blass. I was to naive to understand that kind of things.

Mungkin karena memang tidak ada yang membimbing, atau mungkin juga karena orang-orang disekitar saya yang ada didalam perahu saat itupun tidak tahu ada apa dibalik pulau. Yang jelas, filosopinya, ikuti saja air mengalir. Kemana air mengalir, kemana arus pekerjaan membawa, kesitulah kita akan sampai, itulah masa depan, katanya.

Again, Saya terlalu naif waktu itu untuk mencoba meikirkan diluar konsep itu. Padahal, saya paling anti dengan kata-kata “ikuti saja seperti air mengalir”. Lha iya, coba kalau air nya mengalir ke got yang kotor, masak mau ikut. Atau tiba-tiba saja didepan ada air terjun setinggi 20 meter, masih mau ikut air mengalir???

Makanya saya selalu berusaha “melarikan diri” dari situasi yang saya hadapi. Tapi bukan berarti lari dari kenyataan atau menjadi tidak bertanggung jawab dalam pekerjaan. Bukan. Saya tetap mempunyai integritas dalam pekerjaan, dalam artian melakukan pekerjaan “the best I could”. Tapi, yaitu tadi, gak ada rasa memiliki…Ibarat kata “have a date with the girl you don’t love”…. Upsss.

Waktu itu, adalah impian setiap “Insinyur Mesin” untuk bekerja di Oil Company. Including me. But, no luck. That’s make me realize that maybe I was not meant to be an Oil Company guy. Maybe not allowed to make more money like my other friends from University. So, I had to stick with what I had at that time.

Tapi, itu yang mungkin membuat saya jadi fokus dan eventually things get change and “dewi fortune” (kalau ada.. 🙂 ) mulai genit melirik.

Tahun 1995, setelah lima tahun bekerja dipiping stress, dengan fokus dan terus belajar dari segala macam orang dan cara, barulah mulai sedikit jelas arah perjalanan karir saya. Dimulai denganadanya kesempatan dikirim ke Irvine, Los Angeles, California, kantor pusatnya Fluor Daniel. Semuanya tiba tiba saja menjadi sumringah. 2 tahun kemudian pun terpilih untuk dikirim ke London dalam kapasitas “On The Job Training” di Brown and Root London tahun 1997.

Saat itu rasa percaya diri akan kemampuan saya pun meroket. Seiiring tentu saja rasa keimanan saya keada Allah SWT pun makin meningkat. Wajar yaaa…

Pulang dari London, disambut kerusuhan bulan Mei 1998, sekaligus krisis terparah bangsa ini, saya baru dapat tawaran untuk bekerja di Foster Wheeler Singapore, yang waktu itu saya belum berani.

Artinya, baru setelah 8 tahun bekerja, saya berani melamar ke Singapore. Dan baru 5 tahun kemudian, jadi juga kerja di Singapore.

Selesai di Singapore, karir saya, kalau mau dibilang seperti itu, melejit bak meteor yang bahkan diluar “my wildest dream”.

Kalau mau di bandingkan, dalam skala lain tentu nya, perpindahan dari Singapore ke London adalah ibarat pindahnya pemain sepak bola Asia ke Liga Primer Inggris yang merasakan mendapatkan gaji poundsterling dalam tatanan nilai kontrak yang besar.

I am talking about working in the office in the city of London, not in the middle of the sea on the top of the offshore platform, no. Not even in Lagos or Sakhalin, or in the heat of desert. This is an office job with smart-dress such as wearing a tie and suit.

Yang menjadi pemikiran saya, adalah kenapa saya mesti ke Singapore dulu bekerja 1 tahun, baru bisa melanglang buana ke Inggris dan menjadi Stress Engineer dalam daily rate tadi itu. Apakah memang begitu?

Saya pikir mungkin begitu. Ada semacam tempat yang perlu disinggahi untuk menjadi semacam batu loncatan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Kalau dalam bahasa agamanya, adalah mungkin itulah jalan takdir karir saya.

Setelah hampir 5 tahun di London, akhirnya saya pun bisa pindah dari kontraktor di London ke Oil Company di Saudi Arabia, dengan mendapatkan gaji yang berbasis kepada gaji di London.

Artinya lagi, untuk bisa mendapatkan pengakuan setaraf dengan rekan sejawat kita yang orang bule, saya pikir, kita mesti tinggal dan bekerja di negara mereka, sehingga secara tidak langsung pengetahuan dan kemampuan kita akan disejajarkan dengan mereka dan pada gilirannya akan mendapatkan reward yang sebanding.

Jika kemudian pada suatu saat tertentu kita ingin menjajal kemampuan di negara lain, maka perusahaan tersebut akan menggunakan pengalaman kita sekaligus gaji terkahir kita sebagai basis mereka memberikan paket renumerasi buat kita.

Kesimpulannya:

Saya menganggap Singapore adalah sebagai batu loncatan untuk ke London.

Dan London adalah suatu batu loncatan untuk mendapatkan posisi tawar yang tinggi sehingga bisa mendapatkan paket yang setara dengan orang sini.

The moral of story: Alway trust yourself and trust Allah. Keep trying, work hard, study hard, spread your wings…dan jangan lupa terus dan senantiasa ber-Ibadah kepada Allah SWT.. dan jangan lupa ngaji yaa…

So, if you got an offer from London or Amsterdam or Paris for staff or contract position, grab it, and use it as your bargaining weapon when entering another country job market later in your career. They would not see your nationality or your passport, they would only see your capability and your knowledge, and respect you as an Engineer.

I have done this way successfully.

If I can, You can. Why not?

Donny

Lulusan Teknik Mesin UI tahun 1991, berpengalaman dalam Piping Stress Analysis, dan sekarang Cerified Project Management Professional dari Project Management Institute, USA dan sedang bekerja di Saudi Aramco

Leave a Reply